Sejarah Pemalang Jawa tengah translate indonesia/English History of Central Java Pemalang translate indonesia / English
Provinsi: Jawa Tengah
Province: Central Java
Masa prasejarah
Keberadaan manusia pada masa prasejarah di Pemalang dapat dibuktikan dengan berbagai temuan arkeologis. Di Kabupaten Pemalang bagian barat ditemukan situs-situs megalitik,[2] sedangkan sebuah nekara perunggu ditemukan di Desa Kabunan.[3]Bukti arkeologis adanya unsur kebudayaan Hindu-Buddha di Pemalang antara lain ditemukannya patung Ganesha, lingga, kuburan, ambang pintu, dan batu nisan di Desa Lawangrejo dan Desa Banyumudal.[4] Selain itu, ada pula bukti arkeologis unsur kebudayaan Islam berupa makam-makam para penyebar agama, antara lain Syeikh Maulana Maghribi di Kawedanan Comal, Rohidin, dan Sayyid Ngali Murtala yaitu salah seorang kerabat Sunan Ngampel.[5][6]
Pra Mataram
Eksistensi Pemalang telah disebutkan dalam Bujangga Manik, sebuah naskah kuno berbahasa Sunda yang diperkirakan ditulis pada akhir abad XV.[7] Pada abad XVI, catatan Rijkloff van Goens dan data buku W. Fruin Mees menyatakan bahwa pada tahun 1575 Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang dipimpin oleh seorang pangeran atau raja.[8] Dalam perkembangan kemudian, Panembahan Senopati dan Panembahan Seda Krapyak dari Mataram menaklukkan daerah-daerah tersebut, termasuk di dalamnya Pemalang. Sejak saat itu Pemalang menjadi daerah vasal Mataram yang diperintah oleh Pangeran atau Raja Vasal.
Pemalang dan Kendal pada masa sebelum abad XVII merupakan daerah yang lebih penting dibandingkan dengan Tegal, Pekalongan dan Semarang. Karena itu jalan raya yang menghubungkan daerah pantai utara dengan daerah pedalaman Jawa Tengah (Mataram) yang melintasi Pemalang dan Wiradesa dianggap sebagai jalan paling tua yang menghubungkan dua kawasan tersebut.
Populasi penduduk sebagai pemukiman di pedesaan yang telah teratur muncul pada periode abad awal Masehi hingga abad XIV dan XV, dan kemudian berkembang pesat pada abad XVI, yaitu pada masa meningkatnya perkembangan Islam di Jawa di bawah Kerajaan Demak, Cirebon dan kemudian Mataram. Pada masa itu daerah pantai sekitar Pemalang dan Comal telah menjadi tempat persinggahan dalam perjalanan antara Demak dan Cirebon.[9] Terdapat babad yang menceritakan bahwa Pangeran Benawa, Sultan Pajang yang ketiga (1586-1587), setelah tersingkir dari tahtanya lalu pergi membuka daerah pemukiman baru di sekitar wilayah Pemalang, dan menetap di sana hingga wafatnya.[10] Berdasarkan kepercayaan penduduk setempat, Pangeran Benawa dimakamkan di pemakaman kuno di Desa Penggarit, Kecamatan Taman, Pemalang.[10]
Kadipaten bawahan Mataram
Sejak sekitar 1622-1623, wilayah Pemalang sudah menjadi apanase (daerah kekuasaan) Pangeran Purbaya dari Mataram, yang mana seorang Kyai Lurahmewakilinya sebagai pelaksana pemerintahan setempat (stads houder).[11][12]
Seorang tokoh bernama Raden Maoneng diyakini masyarakat Pemalang sebagai salah seorang leluhur mereka.[13] Makamnya di Dukuh Maoneng, Desa Bojongbata, di pinggir Kecamatan Pemalang sebelah selatan banyak dikunjungi peziarah.[13]Beberapa sumber menyebutkan adanya tokoh bernama Tumenggung Mangun-Oneng, yaitu seorang panglima perang Sultan Agung yang memimpin pasukan Mataram dalam penaklukkan Surabaya pada tahun 1625.[14][15]
Pada masa Sunan Amangkurat I memerintah Mataram (1645-1677), Pemalang sudah berkembang menjadi salah satu dari kota-kota niaga maritim di pesisir utara Jawa, yang diatur dan diawasi dengan ketat oleh Mataram.[8] Catatan Belanda menyebutkan bahwa Mataram mengangkat para adipati (stedehouders) dan syahbandar (sabandars of te tolmeesters) di kota-kota tersebut, serta memiliki dua pejabat tinggi (commissarissens) pengawas pesisir khusus untuk memastikan monopoli Mataram atas kegiatan perdagangan mereka.[8]
Pada sekitar tahun 1652, Sunan Amangkurat II mengangkat Ingabehi Subajayamenjadi Bupati Pemalang setelah Amangkurat II memantapkan tahta pemerintahan di Mataram setelah pemberontakan Trunajaya dapat dipadamkan dengan bantuan VOC pada tahun 1678.
Masa Perang Diponegoro
Menurut catatan Belanda pada tahun 1820 Pemalang kemudian diperintah oleh Bupati yang bernama Mas Tumenggung Suralaya. Pada masa ini Pemalang telah berhubungan erat dengan tokoh Kanjeng Swargi atau Kanjeng Pontang. Seorang Bupati yang terlibat dalam perang Diponegoro. Kanjeng Swargi ini juga dikenal sebagai Gusti Sepuh, dan ketika perang berlangsung dia berhasil melarikan diri dari kejaran Belanda ke daerah Sigeseng atau Kendaldoyong. Makam dari Gusti Sepuh ini dapat diidentifikasikan sebagai makam kanjeng Swargi atau Reksodiningrat. Dalam masa-masa pemerintahan antara tahun 1823-1825 yaitu pada masa Bupati Reksadiningrat. Catatan Belanda menyebutkan bahwa yang gigih membantu pihak Belanda dalam perang Diponegoro di wilayah Pantai Utara Jawa hanyalah Bupati-bupati Tegal, Kendal dan Batang tanpa menyebut Bupati Pemalang.
Sementara itu pada bagian lain dari Buku P.J.F. Louw yang berjudul De Java Oorlog van 1825 -1830 dilaporkan bahwa Residen Van den Poet mengorganisasi beberapa barisan yang baik dari Tegal, Pemalang dan Brebes untuk mempertahankan diri dari pasukan Diponegoro pada bulan September 1825 sampai akhir Januari 1826. Keterlibatan Pemalang dalam membantu Belanda ini dapat dikaitkan dengan adanya keterangan Belanda yang menyatakan Adipati Reksodiningrat hanya dicatat secara resmi sebagai Bupati Pemalang sampai tahun 1825. Dan besar kemungkinan peristiwa pengerahan orang Pemalang itu terjadi setelah Adipati Reksodiningrat bergabung dengan pasukan Diponegoro yang berakibat Belanda menghentikan Bupati Reksodiningrat.
Pada tahun 1832 Bupati Pemalang yang Mbahurekso adalah Raden Tumenggung Sumo Negoro. Pada waktu itu kemakmuran melimpah ruah akibat berhasilnya pertanian di daerah Pemalang. Seperti diketahui Pemalang merupakan penghasil padi, kopi, tembakau dan kacang. Dalam laporan yang terbit pada awal abad XX disebutkan bahwa Pemalang merupakan afdeling dan Kabupaten dari karisidenan Pekalongan. Afdeling Pemalang dibagi dua yaitu Pemalang dan Randudongkal. Dan Kabupaten Pemalang terbagi dalam 5 distrik. Jadi dengan demikian Pemalang merupakan nama kabupaten, distrik dan Onder Distrik dari Karisidenan Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah.
Pusat Kabupaten Pemalang yang pertama terdapat di Desa Oneng. Walaupun tidak ada sisa peninggalan dari Kabupaten ini namun masih ditemukan petunjuk lain. Petunjuk itu berupa sebuah dukuh yang bernama Oneng yang masih bisa ditemukan sekarang ini di Desa Bojongbata. Sedangkan Pusat Kabupaten Pemalang yang kedua dipastikan berada di Ketandan. Sisa-sisa bangunannya masih bisa dilihat sampai sekarang yaitu disekitar Klinik Ketandan (Dinas Kesehatan). Pusat Kabupaten yang ketiga adalah kabupaten yang sekarang ini (Kabupaten Pemalang dekat Alun-alunKota Pemalang). Kabupaten yang sekarang ini juga merupakan sisa dari bangunan yang didirikan oleh Kolonial Belanda. Yang selanjutnya mengalami beberapa kali rehab dan renovasi bangunan hingga kebentuk bangunan joglo sebagai ciri khas bangunan di Jawa Tengah.
Masa kolonial Belanda dan seterusnya
Pada tahun 1918, di Pemalang berdiri organisasi pergerakan wanita Wanito Susilo, yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan.[16]
Kabupaten Pemalang mantap sebagai suatu kesatuan administratif pasca pemerintahan Kolonial Belanda. Sejak tahun 1948, Pusat Pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Pemalang berkedudukan di Pemalang.[17
Human existence in prehistoric times in Pemalang can be proved by various archaeological findings. In the West Pemalang district there are megalithic sites, [2] whereas a bronze node is found in the Village of Kabunan. [3] Archaeological evidence of Hindu-Buddhist cultural element in Pemalang, among others, was found Ganesha statue, phallus, grave, threshold, and tombstone in Lawangrejo Village and Banyumudal Village. [4] In addition, there are archeological evidence of the elements of Islamic culture in the form of tombs of religious disseminators, such as Syeikh Maulana Maghribi in Kawedanan Comal, Rohidin, and Sayyid Ngali Murtala, one of Sunan Ngampel's relatives. [5] [6]
Pre MataramSunting
Pemalang's existence has been mentioned in Bujangga Manik, a Sundanese-language ancient text that was thought to have been written in the late XV century. [7] In the sixteenth century, Rijkloff van Goens and W. Fruin Mees records that in 1575 Pemalang was one of 14 independent regions in Java, led by a prince or king. [8] In later development, Panembahan Senopati and Panembahan Seda Krapyak from Mataram conquered these areas, including Pemalang. Since then Pemalang became the venue of Mataram vassal governed by Prince or Vasal King.
Pemalang and Kendal before the XVII century were more important than Tegal, Pekalongan and Semarang. Therefore, the highway connecting the north coast with Central Java (Mataram) inland which crossed Pemalang and Wiradesa is regarded as the oldest road connecting the two areas.
Population populations as settled in settled villages appeared in the early centuries AD until the XIV and XV centuries, and then grew rapidly in the sixteenth century, which was in the wake of the growing Islamic growth in Java under the Demak Kingdom, Cirebon and then Mataram. At that time the coastal areas around Pemalang and Comal had become a stopover point between Demak and Cirebon. [9] There is a narrative that Prince Benawa, the third Pajang Prince (1586-1587), after being removed from his throne then went to open a new settlement area around Pemalang area, and settled there until his death. [10] Based on local residents' belief, Prince Benawa was buried in an ancient cemetery in Penggarit Village, Taman District, Pemalang. [10]
Dictatorship of Mataram subordinates
Since around 1622-1623, the Pemalang area has become a chimpanzee (power area) of Prince Purbaya from Mataram, where a Kyai Lurah represents his local governor (stads houder). [11] [12]
A figure named Raden Maoneng is believed to be Pemalang as one of their ancestors. [13] His tomb in Dukuh Maoneng, Bojongbata village, on the edge of Pemalang subdistrict in the south was visited by many pilgrims. [13] Several sources mentioned a figure named Tumenggung Mangun-Oneng, a Sultan Agung warlord who led the Mataram troops in conquering Surabaya in 1625. [ 14] [15]
In the time of Sunan Amangkurat I ruled Mataram (1645-1677), Pemalang has developed into one of the maritime commercial towns on the north coast of Java, regulated and closely supervised by Mataram. [8] The Dutch note that Mataram raised the duke (stedehouders) and the sabahars of te tolmeesters in these cities, and had two special officers (commissarissens) a special coastal watchdog to ensure Mataram's monopoly over their trading activities. [8]
In about 1652, Sunan Amangkurat II lifted Ingabehi Subajayam to Pemalang Regent after Amangkurat II established the throne of governance in Mataram after the Trunajaya rebellion could be extinguished with the aid of VOC in 1678.
Diponegoro War Time
According to Dutch records in 1820 the Pemalang was then ruled by the Regent, Mas Tumenggung Suralaya. Currently Pemalang has been closely linked with the character of Kanjeng Swargi or Kanjeng Pontang. A Regent who was involved in the Diponegoro war. Kanjeng Swargi is also known as the Elder Lord, and during the war he managed to escape from the pursuit of the Dutch to Sigeseng or Kendaldoyong. This tomb of the Old Lord can be identified as the grave of Swargi or Reksodiningrat. During the reign of 1823-1825, during the reign of Reksadiningrat. The Dutch note that the persistent Dutch aid in the Diponegoro war on the North Coast of Java was only Regents of Tegal, Kendal and Batang without mentioning Pemalang Regent.
Meanwhile in another part of the P.J.F Book. Louw, De Java Oorlog van 1825 -1830 reported that Resident Van den Poet organized several good lines from Tegal, Pemalang and Brebes to defend himself from the Diponegoro troops in September 1825 until the end of January 1826. Pemalang's involvement in assisting the Dutch could be attributed with a Dutch statement stating that the Duke of Reksodiningrat was only officially registered as Pemalang Regent until 1825. And it was possible that the Pemalang people would have taken place after Adipati Reksodiningrat joined the Diponegoro troops which resulted in the Dutch halting the Regent of Reksodiningrat.
In 1832 the Regent of Pemalang was Mbahurekso Raden Tumenggung Sumo Negoro. At that time prosperity overflowed due to the success of agriculture in Pemalang area. As known Pemalang is a producer of rice, coffee, tobacco and nuts. In a report published in the early twentieth century it was mentioned that Pemalang was an afdeling and the District of Pekalongan. Pemalang Afdeling is divided into two Pemalang and Randudongkal. And Kabupaten Pemalang is divided into 5 districts. Thus, Pemalang is the name of the district, district and Onder District of Pekalongan, Central Java Province.
The first Pemalang Regency center is located in Oneng Village. Although there is no residual residency from this Regency but still found other guidance. The guide is a denguh named Oneng which can still be found now in Bojongbata Village. While the second Central Pemalang District is determined to be in Ketandan. The remains of the building can still be seen until now that is around the Ketandan Clinic (Health Service). The third district is the current district (Pemalang Regency near Pemalang City Square). The current district is also the residue of the building that was established by the Dutch Colonial. Subsequently there have been several rehabs and renovations of the building to the shape of joglo building as a hallmark of buildings in Central Java.
Dutch colonial period and beyond
In 1918, Pemalang established a women's movement organization Wanito Susilo, engaged in social and education. [16]
Pemalang regency was established as a post-colonial post-colonial administrative unit. Since 1948, the Central Government of the Pemalang District II District is domiciled in Pemalang



Comments
Post a Comment